Kamis, 10 Maret 2016

LAPORAN BERITA TENTANG TANAH LONGSOR



LAPORAN GEOGRAFI
“ BANJARNEGARA TERTIMBUN ”






Nama: Rohmatul Afrida Nor Laili
Kelas: X IPS-1
No.   : 25


 SMA NEGERI 3 JOMBANG
TAHUN AJARAN
2015/2016

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering menimbulkan kerugian, baik berupa korban jiwa maupun materi. Longsor sendiri merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Menurut Vulcanological Survey of Indonesia (2010), proses terjadinya longsor diawali oleh meresapnya air yang akan menambah berat tanah. Jika air menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Tanah longsor sangat sering terjadi di Indonesia, khususnya di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Daerah tersebut sebenarnya sudah dikenal sebagai salah satu kawasan rawan longsor di Indonesia. Bencana tanah longsor tersebut terjadi pada Jum’at petang, 12 Desember 2014. Tepatnya terjadi di Bukit Telagalele. Bukit Telagalele yang semula menjulang tinggi itu tiba-tiba longsor. Setelah terjadi longsoran pertama, hujan seketika mengguyur dengan deras, selanjutnya membuat material longsoran meluncur dan mengubur 105 rumah. Longsoran juga menutup jalan raya yang menjadi jalur penghubung Banjarnegara dengan Dieng.
Penyebab longsor dapat karena aktivitas manusia maupun terjadi secara alami. Meskipun demikian, aktivitas manusia disinyalir sebagai penyebab longsor terbesar yang terjadi di Indonesia termasuk di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada hari Jum’at, 12 Desember 2014. Namun di balik ulah manusia, juga masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya yaitu curah hujan, vegetasi, keadaan topografi di daerah tersebut, serta jenis tanah juga menjadi penyebab utama yang unik atas terjadinya longsor di Banjarnegara.  
1.2 Rumusan Masalah
Apa faktor-faktor penyebab terjadiya tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
1.4 Manfaat
Dapat mengetahui berbagai faktor penyebab terjadinya tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.




BAB II
ISI
Bencana tanah longsor di Banjarnegara di awali dengan hujan sangat lebat yang berlangsung hampir dua hari. Pada Kamis (11/12), sehari sebelum peristiwa longsor, Stasiun Geofisika Kelas III (BMKG) Banjarnegara mencatat, curah hujan sangat tinggi mencapai 112,7 mm. BMKG Banjarnegara mencatat, curah hujan hari itu 101,8 mm. Data tersebut diperkuat oleh sumber TRMM yang juga menunjukkan bahwa di Banjarnegara saat itu memang terjadi hujan lebat pada kisaran 100–120 mm. Berdasarkan data streamline pada Jumat (12/12) pukul 07.00 WIB, di sepanjang Pulau Jawa terdapat pola konvergensi massa udara yang membawa uap air. Pergerakan massa udara itu mengalir ke arah timur dan sebagian ke arah tenggara, kemudian berputar ke kanan, menuju zona pusat tekanan rendah. Pada hari yang sama, di Samudra Hindia selatan Jawa sedang ada pertumbuhan tekanan rendah (low pressure). Gangguan tropis itulah yang menjadi salah satu penyebab cuaca buruk di kawasan Wonosobo-Banjarnegara beberapa hari terakhir.
Selain karena curah hujan yang tinggi penyebab lain dari bencana tanah longsor ini adalah karena sudah tipisnya atau kurangnya vegetasi di Banjarnegara. Sehingga, tanaman di sana tak mampu menahan beban air karena tidak ada daya ikat oleh karena itu air tidak tertampung dan kemudian longsor terjadi.
Faktor lain yang menyebabkan longsor di Banjarnegara adalah karena jenis tanah di Banjarnegara berjenis tanah lempung dan sangat gembur. Ciri tanah ini berwarna merah serta lengket. Ketika curah hujan tinggi, tanah jenis ini tidak mampu menahan beban berat. Beban berat itu adalah pohon-pohon berkayu besar.  Jenis tanah ini tidak sesuai apabila ditanami tumbuhan dengan tinggi lebih dari 2 meter dan berkayu besar. Banyaknya pohon dengan arah pertumbuhan miring saat tubuh tanaman semakin tinggi juga menjadi penyebab longsor di daerah Banjarnegara. Selain itu ada retakan pada tanah serta kemunculan aliran air secara tiba-tiba pada tebing tanah saat curah hujan tinggi.
Keadaan topografi di Banjarnegara 70 % wilayahnya didominasi zona perbukitan dan pegunungan tua. Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar yang menjadi area longsor sekitar 10 km di utara Kota Banjarnegara, sebenarnya sudah dikenal sebagai kawasan rawan longsor. Beberapa faktor yang paling berpengaruh dalam bencana tanah longsor di Banjarnegara adalah kemiringan lereng yang curam serta kondisi batuan penyusun yang mendukung terjadinya tanah longsor. Kemiringan lereng lebih dari 40 % dengan litologi yang punya daya serap air tinggi (endapan dari bahan rombakan gunung api) dikenal memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya gerakan tanah. Gaya pendorong memiliki kekuatan lebih besar daripada gaya penahan. Gaya dorong biasanya berupa air atau kemiringan yang curam. Sementara itu, gaya penahan sangat bergantung pada jenis tanahnya.
Penyebab longsor tidak lepas dari ulah manusia. Ulah manusia yang dapat menyebabkan tanah longsor antara lain, budidaya pertanian di Bukit Telaga Lele yang tidak menerapkan konservasi tanah dan air. Kondisi tanah dan air di lokasi kejadian, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut. Tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air.
Usaha yang tepat untuk menangani masalah ini adalah dengan menanami tanaman perdu pada tanah  lempung seperti di Karangkobar dengan tinggi pohon tidak melebihi 2 m. Masyarakat juga seharusnya sadar untuk tidak membangun permukiman di dekat tanah rawan longsor agar bila terjadi tanah longsor tidak memakan banyak korban. Memperbaiki konservasi serta membuat terasering di daerah lereng.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan berita tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dapat disimpulkan bahwa tanah longsor yang terjadi pada tanggal 12 Desember 2014 di daerah tersebut disebabkan karena banyak faktor yaitu curah hujan yang sangat tinggi, mencapai 112,7 mm terjadi sehari sebelum tanah longsor dan pada hari di saat terjadinya tanah longsor curah hujan mencapai 101,8 mm. Faktor kedua adalah tipisnya vegetasi di Banjarnegara. Selain itu penyebab utama tanah longsor di Banjarnegara adalah karena tanahnya  berjenis lempung dan sangat gembur sehingga tidak mampu menahan curah hujan yang tinggi. Apabila dilihat dari keadaan toporafinya, 70% wilayah di Banjarnegara didominasi oleh zona perbukitan dan pegunungan tua dengan kemiringan lereng curam yaitu lebih dari 40 %. Ulah manusia yang juga menjadi penyebab yaitu tidak menerapkan konservasi tanah dan air pada lahan pertanian, tidak adanya terasering pada daerah lereng, jenis tanaman di bukit adalah tanaman semusim dengan jenis palawija yang tidak rapat sehingga kondisi tanah longgar dan mudah terbawa air.
3.2 Saran
Untuk meminimalkan terjadinya tanah longsor tersebut maka diperlukan pencegahan dengan cara menanam pohon di tempat yang berpotensi terjadi longsor agar akar tanaman dapat mengikat tanah, membuat tembok penahan pada tebing-tebing yang memiliki kelerengan curam hingga sangat curam, membuat terasering di daerah lereng, memperbaiki vegetasi dan konservasi.