LAPORAN
GEOGRAFI
“
BANJARNEGARA TERTIMBUN ”
Nama:
Rohmatul Afrida Nor Laili
Kelas:
X IPS-1
No. : 25
SMA
NEGERI 3 JOMBANG
TAHUN
AJARAN
2015/2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering menimbulkan
kerugian, baik berupa korban jiwa maupun materi. Longsor sendiri merupakan
perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah,
atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor
sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Menurut Vulcanological Survey of
Indonesia (2010), proses terjadinya longsor diawali oleh meresapnya air yang
akan menambah berat tanah. Jika air menembus sampai tanah kedap air yang
berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan
di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Tanah longsor sangat sering terjadi di Indonesia, khususnya di Dusun
Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah. Daerah tersebut sebenarnya sudah dikenal sebagai salah satu kawasan
rawan longsor di Indonesia. Bencana tanah longsor tersebut terjadi pada Jum’at
petang, 12 Desember 2014. Tepatnya terjadi di Bukit Telagalele. Bukit
Telagalele yang semula menjulang tinggi itu tiba-tiba longsor. Setelah terjadi
longsoran pertama, hujan seketika mengguyur dengan deras, selanjutnya membuat
material longsoran meluncur dan mengubur 105 rumah. Longsoran juga menutup
jalan raya yang menjadi jalur penghubung Banjarnegara dengan Dieng.
Penyebab longsor dapat karena aktivitas manusia maupun terjadi secara
alami. Meskipun demikian, aktivitas manusia disinyalir sebagai penyebab longsor
terbesar yang terjadi di Indonesia termasuk di Dusun Jemblung, Desa Sampang,
Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada hari Jum’at, 12
Desember 2014. Namun di balik ulah manusia, juga masih banyak faktor-faktor
lain yang menjadi penyebabnya yaitu curah hujan, vegetasi, keadaan topografi di
daerah tersebut, serta jenis tanah juga menjadi penyebab utama yang unik atas
terjadinya longsor di Banjarnegara.
1.2 Rumusan Masalah
Apa
faktor-faktor penyebab terjadiya tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang,
Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah?
1.3 Tujuan
Untuk
mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya bencana tanah longsor di Dusun
Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah.
1.4 Manfaat
Dapat
mengetahui berbagai faktor penyebab terjadinya tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang,
Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
BAB II
ISI
Bencana tanah longsor di
Banjarnegara di awali dengan hujan sangat lebat yang berlangsung hampir dua
hari. Pada Kamis (11/12), sehari sebelum peristiwa longsor, Stasiun Geofisika
Kelas III (BMKG) Banjarnegara mencatat, curah hujan sangat tinggi mencapai
112,7 mm. BMKG Banjarnegara mencatat, curah hujan hari itu 101,8 mm. Data
tersebut diperkuat oleh sumber TRMM yang juga menunjukkan bahwa di Banjarnegara
saat itu memang terjadi hujan lebat pada kisaran 100–120 mm. Berdasarkan data
streamline pada Jumat (12/12) pukul 07.00 WIB, di sepanjang Pulau Jawa terdapat
pola konvergensi massa udara yang membawa uap air. Pergerakan massa udara itu
mengalir ke arah timur dan sebagian ke arah tenggara, kemudian berputar ke
kanan, menuju zona pusat tekanan rendah. Pada hari yang sama, di Samudra Hindia
selatan Jawa sedang ada pertumbuhan tekanan rendah (low pressure). Gangguan
tropis itulah yang menjadi salah satu penyebab cuaca buruk di kawasan
Wonosobo-Banjarnegara beberapa hari terakhir.
Selain karena curah hujan yang
tinggi penyebab lain dari bencana tanah longsor ini adalah karena sudah
tipisnya atau kurangnya vegetasi di Banjarnegara. Sehingga, tanaman di sana tak
mampu menahan beban air karena tidak ada daya ikat oleh karena itu air tidak
tertampung dan kemudian longsor terjadi.
Faktor lain yang menyebabkan longsor
di Banjarnegara adalah karena jenis tanah di Banjarnegara berjenis tanah
lempung dan sangat gembur. Ciri tanah ini berwarna merah serta lengket. Ketika
curah hujan tinggi, tanah jenis ini tidak mampu menahan beban berat. Beban
berat itu adalah pohon-pohon berkayu besar. Jenis tanah ini tidak sesuai apabila ditanami
tumbuhan dengan tinggi lebih dari 2 meter dan berkayu besar. Banyaknya pohon
dengan arah pertumbuhan miring saat tubuh tanaman semakin tinggi juga menjadi
penyebab longsor di daerah Banjarnegara. Selain itu ada retakan pada tanah
serta kemunculan aliran air secara tiba-tiba pada tebing tanah saat curah hujan
tinggi.
Keadaan topografi di Banjarnegara 70
% wilayahnya didominasi zona perbukitan dan pegunungan tua. Dusun Jemblung,
Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar yang menjadi area longsor sekitar 10 km di
utara Kota Banjarnegara, sebenarnya sudah dikenal sebagai kawasan rawan
longsor. Beberapa faktor yang paling berpengaruh dalam bencana tanah longsor di
Banjarnegara adalah kemiringan lereng yang curam serta kondisi batuan penyusun
yang mendukung terjadinya tanah longsor. Kemiringan lereng lebih dari 40 % dengan
litologi yang punya daya serap air tinggi (endapan dari bahan rombakan gunung
api) dikenal memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya gerakan tanah. Gaya
pendorong memiliki kekuatan lebih besar daripada gaya penahan. Gaya dorong
biasanya berupa air atau kemiringan yang curam. Sementara itu, gaya penahan
sangat bergantung pada jenis tanahnya.
Penyebab longsor
tidak lepas dari ulah manusia. Ulah manusia yang dapat menyebabkan tanah
longsor antara lain, budidaya pertanian di Bukit Telaga Lele yang tidak
menerapkan konservasi tanah dan air. Kondisi tanah dan air di lokasi kejadian,
di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut. Tanaman di atas bukit tempat
terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija yang tidak
rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air.
Usaha yang tepat untuk menangani
masalah ini adalah dengan menanami tanaman perdu pada tanah lempung seperti di Karangkobar dengan tinggi pohon
tidak melebihi 2 m. Masyarakat juga seharusnya sadar untuk tidak membangun
permukiman di dekat tanah rawan longsor agar bila terjadi tanah longsor tidak
memakan banyak korban. Memperbaiki konservasi serta membuat terasering di
daerah lereng.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan berita
tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan
Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah dapat disimpulkan bahwa tanah
longsor yang terjadi pada tanggal 12 Desember 2014 di
daerah tersebut disebabkan karena banyak faktor yaitu curah hujan
yang sangat tinggi, mencapai 112,7 mm terjadi sehari sebelum tanah longsor dan
pada hari di saat terjadinya tanah longsor curah hujan mencapai 101,8 mm.
Faktor kedua adalah tipisnya vegetasi di Banjarnegara. Selain itu penyebab
utama tanah longsor di Banjarnegara adalah karena tanahnya berjenis lempung dan sangat gembur sehingga
tidak mampu menahan curah hujan yang tinggi. Apabila dilihat dari keadaan toporafinya,
70% wilayah di Banjarnegara didominasi oleh zona perbukitan dan pegunungan tua
dengan kemiringan lereng curam yaitu lebih dari 40 %. Ulah manusia yang juga
menjadi penyebab yaitu tidak menerapkan konservasi tanah dan
air pada lahan pertanian, tidak adanya terasering pada daerah lereng, jenis
tanaman di bukit adalah tanaman semusim dengan jenis palawija yang tidak rapat
sehingga kondisi tanah longgar dan mudah terbawa air.
3.2 Saran
Untuk
meminimalkan terjadinya tanah longsor tersebut maka diperlukan pencegahan
dengan cara menanam pohon di tempat yang berpotensi terjadi longsor agar akar
tanaman dapat mengikat tanah, membuat tembok penahan pada tebing-tebing yang
memiliki kelerengan curam hingga sangat curam, membuat terasering di daerah lereng,
memperbaiki vegetasi dan konservasi.